Tanpa terasa masyarakat Islam menguat dengan sangat cepat. Di utara, di antara
Syria dan Irak sekarang, masyarakat berbondong-bondong mengikuti Islam. Hal
demikian semakin memerosotkan wibawa pemerintahan Romawi yang berkuasa di
wilayah itu. Di jazirah Arab, justru tinggal masyarakat Mekah dn sekitarnya yang
masih memusuhi Islam.
Namun, perubahan keadaan berlangsung dengan sangat
cepat. Tanpa diduga, pihak Qurais melanggar perjanjian damai mereka dengan kaum
Muslim. Bani Bakar yang berada di pihak Qurais, tiba-tiba menyerang Bani Khuza'a
yang menurut perjanjian Hudaibiya berada di pihak muslim. Beberapa orang Khuza'a
tewas. Hal itu dilaporkan oleh pemuka masyarakat setempat, Budail anak Warqa
pada Muhammad di Madinah.
Abu Sofyan berupaya mencegah keberangkatan
Budail. Namun terlambat. Ia juga berusaha menemui Muhammad di Madinah. Tapi, tak
satupun orang di Madinah bersedia membantu itu. Ummu Habibia, putri Abu Sofyan
yang telah memeluk Islam, pun menolak mempertemukan ayahnya itu dengan Sang
Rasul. Pulanglah Abu Sofyan.
Perjanjian Hudaibiya telah batal. Sekarang
tak ada lagi larangan bagi Muhammad untuk mengerahkan pasukannya mengepung
Mekah. Itulah yang dilakukannya. Pasukan muslim disiagakan untuk perjalanan
tersebut. Di tengah jalan, berbagai kabilah bergabung dengan mereka. Termasuk
kabilah-kabilah dari Ghatafan yang dulu bersama Qurais hendak menggempur Madinah
di Perang Khandaq. Diperkirakan jumlah pasukan itu mencapai 10 ribu orang.
Kaum Qurais masih berdebat ketika rombongan Muhammad hampir mencapai
Mekah. Tak ada informasi apapun atas gerakan pasukan itu. Seorang muslim
Madinah, Hatib bin Abu Balta'a, sempat membocorkan rencana tersebut lantaran
tidak tega membayangkan nasib yang akan ditanggung para saudaranya di Mekah.
Namun Ali dan Zubair dapat mengejar Sarah, perempuan yang dititipi surat
tersebut.
Di dekat Mekah, di Maraz Zahran, rombongan Muhammad berhenti.
Di sana, beberapa orang kerabatnya dari Bani Hasyim, mendatangi Muhammad dan
menyatakan diri masuk Islam. Paman Muhammad, Abbas bin Abdul Muthalib, juga
datang untuk mencegah terjadinya banjir darah. Abbas sempat mondar-mandir di
antara kedua kubu, sebelum kemudian memergoki Abu Sufyan bin Harb. Pemimpin
tertinggi Qurais itu lalu dibawanya pada Muhammad.
Malam itu Muhammad
tidak menemui Abu Sufyan. Namun ia berpesan agar musuh besarnya tersebut
dilindungi keselamatannya hingga pertemuan esok harinya. Dalam pertemuan itu,
Muhammad berjanji untuk tidak memerangi Qurais. "Barangsiapa datang ke rumah Abu
Sufyan, orang itu selamat. Barang Siapa menutup pintu rumahnya, orang itu
selamat. Barangsiapa masuk ke dalam masjid (lingkungan ka'bah), orang itu
selamat." Pada prinsipnya, siapa yang tidak mengangkat senjata pada kaum
muslimin, mereka tidak akan diperangi.
Toh Muhammad tetap bersiaga
seandainya pecah perang. Pasukan elit yang mengenakan pakaian serba hijau dan
berbaju zirah telah mengelilingi Muhammad. Empat regu pasukan disiapkan.
Masing-masing dipimpin oleh Khalid bin Walid, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Ubada
serta Abu Ubaidah bin Jarrah. Mereka bersiap memasuki Mekah dari arah yang
berbeda.
Sa'ad bin Ubada sempat berbuat keliru. Ketika memasuki Mekah,
Sa'ad berteriak: "Hari ini adalah hari perang. Hari dibolehkannya segala yang
terlarang..." Seruan yang bertolak belakang dengan janji Muhammad untuk memasuki
Mekah secara damai. Muhammad segera merebut bendera komando dari tangan Sa'ad
dan menyerahkannya pada Qais, anak Sa'ad yang sekalipun berbadan besar namun
lembut hati.
Namun, dari arah belakang tiba-tiba pasukan Ikrima bin Abu
Jahal tiba-tiba menyerang. Khalid menghadapi seranagn tersebut. Tiga belas orang
Qurais tewas, sisanya -termasuk Ikrima-melarikan diri. Sementara itu, di Mekah
tak setetes pun darah mengalir karena serbuan kaum Muslimin. Muhammad masuk
Mekah dari Bukit Hind, tak jauh dari makam Khadijah, istrinya. Ia berhenti
sebentar di kemah lengkung yang ada di situ, dan melepas pandangan ke seluruh
penjuru Mekah. Rasul pergi ke ka'bah, menyentuh hajar aswad dan mengelilingi
ka'bah untuk bertawaf. Rasul juga meminta Utsman bin Talha untuk membuka pintu
ka'bah. Di pintu itu ia berdiri dan berkhutbah di hadapan hadirin.
Rasul, dalam khutbahnya, mengutip Quran surat Al-Hujurat ayat tiga
belas. "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan, dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar
saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antaramu menurut pandangan
Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha
Mengerti."
Ketika orang Qurais tengah menunggu-nunggu hukuman apa yang
bakal dijatuhkan bagi mereka, Muhammad justru berkata: "Fadzhabu,
faantumut-thulaqau". "Pergilah, kalian bebas sekarang." Tujuh belas orang tokoh
yang dianggap paling makar telah dijatuhi hukuman mati. Namun mereka juga
diampuni, termasuk Hindun, istri Abu Sufyan yang telah merobek dada serta
memakan jantung Hamzah dalam perang Uhud. Hanya empat orang yang telanjur telah
dieksekusi.
Muhammad kemudian meminta orang-orang untuk menyingkirkan
patung-patung di sekitar ka'bah. Setelah itu, Bilal menyeru azan lima kali dalam
sehari. Sejak itulah azan tak pernah berhenti berkumandang dari tempat yang kini
menjadi Masjidil Haram di Mekah itu, sampai sekarang.n
sumber :
www.pesantren.net



Categories :
Anggiindrawan

0 komentar:
Posting Komentar