"Dan sesungguhnya talah Kami Utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan
keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata,
"(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta". Maka tatkala Musa datang kepada
mereka membawa kebenaran dari sisi Kami Mereka berkata: : "bunuhlah anak-anak
orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita
mereka". Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka).
Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya) : "Biarkan aku membunuh Musa
dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia
akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka
bumi.:'(Al-Mu'min:23-27)
Menurut Dr Wahbah Zuhaili dalam Tafesir
al-Munir, nama-nama mereka (Fir'aun, Haman dan qarun) disebutkan dengan nama
jelas karena mereka adalah tokoh pembangkang, simpul massa yang memprovokasi
para pengikut dan rakyatnya dengan sandiwara dan rekayasa.
Mereka, masih
kata Zuhaili, tidak menghi- raukan argumen yang benar. Kata kunci bagi mereka
hanyalah kekuatan dan tangan besi dalam memenangkan keinginan.Tidak ada gunanya
bukti dan ricek. Pelacakan dan pembuktian tak ada dalam kamus mereka. "Anda
bersama kami atau bersama mereka" adalah bahasa Fir'aun terhadap pengikut Musa,
setelah terbukti bahwa mereka dan Fir'aun yang bersalah.
Setelah Musa
datang dengan bukti yan tidak bisa di ragukan mereka malah berkati "Bunuhlah
anak anak mereka, permaluka istri-istri-mereka dengan membiarkar mereka hidup
untuk dijadikan pembantu dan sarana pelampiasan nafsu." Untuk menutupi semua itu
mereka bersandiwara de- ngan cara membuat opini umum, karena mereka memiliki
kekuasaan, materi dan sarana publikasi, bahwa Musa dan pengikutnya adalah biang
ke- rusakan yang bermak- sud mengacaukan peradab- an yang sedang dibangun, Musa
dan pengikutnya mengancam existensi budaya dan hak kebebasan (baca: demokrasi
dan HAM). Semua itu dia lakukan walaupun banyak di antara rakyatnya, bahkan
orang-orang keperca- yaannya dan keluarganya yang menantang kebohongannya.
Dia dengan bangga dan tanpa malu- malu mensosialisasikan misinya untuk
memberantas kerusakan yang dia identikkan dengan Musa dan pengikutnya. Dia
berkam- panye dengan pendekatan bahasa kebutuh- an mendasar bagi masyarakat,
demi kehidupan yang damai dan tenteram, kelestarian budaya dan dengan bahasa
yang sejenis yang substansinya adalah azab namun dipoles dengan bingkai yang
menye- jukkan mata dan pendengaran. "Izinkan saya untuk membunuh Musa, aku
khawatir kalau orang seperti dia di biarkan hidup maka dia akan mengacak-acak
tatanan hidup kita atau melakukan kerusakan di muka bumi ini."
Setelah
memberikan penjelasan tentang makna ringkas kisah di atas, Dr Wahbah Zuhaili
memberikan kesimpulan, "Feno- mena yang menyeluruh dalam kehidupan nabi-nabi
adalah mereka semuanya dibe- rikan bukti-bukti yang nyata yang membe- narkan
misi mereka, Namun semuanya mendapat perlawanan dengan keras, mereka di
identikkan dengan istilah yang berkonotasi jahat, walaupun akhirnya merekalah
yang menjadi pemenangnya.
Beginilah alur cerita sebuah perjuangan, setelah
persaingan fair yang tidak bisa mereka menangkan, baik tehnologi, kekuat- an
persenjataan hingga kemampuan menarik simpati dan opini dunia. Jalan keluar
satu-satunya bagi mereka adalah berkoalisi membentuk kekuatan multi dimensi
untuk menghancurkan kebenaran setelah teriebih dahulu membentuk opini umum.
Kegagalan kampanye kekuatan batil dalam rangka memberantas kebenaran
adalah sebuah kepastian. Yang dimaksud dengan perubahan agama oleh Fir'aun
adalah berpaling dari ketundukan tertiadap Fir'aun. Yang dimaksud dengan
kerusakan di muka bumi adalah munculnya opini masyarakat yang mengarah kepada
ketidak- senangan teitiadap Fir'aun, yang ujungnya adalah benci, tidak percaya
dan ragu.
Menarik dicermati, tindakan Musa dalam menghadapi masalah ini,
Karena itu, Imam AI-Razi mengambil delapan butir pelajaran, diantaranya:
Pertama, tindakan Musa untuk langsung beriindung kepada Allah ketika
Fir'aun me- nyuruh ia dibunuh, mengisyaratkan bahwa satu-satunya jalan untuk
melindungi diri dah kejahatan orang lain adalah dengan bergan- tung kepada Allah
dan dengan bertawakkal kepadaNya. Memohon perlindungan dari kejahatan jin dan
manusia. Pelindung satu- satunya yang mampu memberikan jalan keluar dari segala
masalah adalah Allah. Manusia berakal seharusnya kembali kepadaNya bila
menghadapi masalah.
Kedua, kata "warabbukum" mengisyarat- kan agar Musa
mengajak kaumnya kembali kepada kebenaran. Musa tidak menyebutkan nama Fir'aun
dalam kata perlindungannya, sebagai balas budi atas kebaikannya yang telah
mengasuh Musa pada masa kecil. Penyebab manusia menzalimi yang lain ada dua :
pertama, karena dia adalah sosok manusia takabbur dan beihati keras. Kedua,
tidak beriman kepada Allah dan tidak percaya tentang Hari Kebangkitan. Walau
demikian, pemberian, jasa dan kebaikan seseorang bukan penghalang untuk
menantang keza- liman, seperti dibuktikan Musa.
Yang tak kalah menarik,
yaitu tampilnya banyak kisah dalam AI-Qur'an. Bahkan, sepertiga kandungan
al-Our'an mengguna- kan pendekatan kisah nya, bukan juga fiktif. Masalahnya,
kapan kasus dengan alur cerita yang sama akan terulang? Wallahu a'lam.
oleh : Muhammad Rum,MA



Categories :
Anggiindrawan

0 komentar:
Posting Komentar