Oleh ribuan anak muda yang baru memasuki gerbang kerja, juga manajer muda yang
frustrasi di dunia kerja, kerap bertanya pada saya: aspek apa dari dunia kerja
yang paling sulit dihadapi? Terus terang, bekerja apapun dan dimanapun, serta
bermodalkan pendidikan manapun sebenarnya mudah, asal tekun belajar dan
bertanya. Yang sering bikin semuanya jadi rumit, adalah interaksi antarmanusia.
Jangankan manusia yang baru memasuki gerbang kerja, mereka yang sudah berumur
senja di tempat kerja sekalipun sering dibuat pusing oleh interaksi
terakhir.
Meminjam pengandaian seorang penulis, ada perbedaan antara
menendang bola dan menendang kucing. Sebelum menendang bola, kita bisa ramalkan
kemana bola akan bergerak setelah ditendang. Akan tetapi, sebelum menendang
kucing, kita tidak tahu apakah kucingnya akan menangis, lari, melompat, mati
atau alternatif lainnya. Nah, meramalkan respons orang lain sebelum kita
bertindak, jauh lebih rumit dibandingkan dengan meramalkan respons kucing.
Sebab, kucing tidak mengenal politik, pura-pura, balas dendam dan serangkaian
hal rumit lainnya. Namun, ini juga yang menyebabkan disiplin mengelola manusia
menjadi penuh sentuhan seni dan kepekaan. Sebagian kecil memang bisa diungkapkan
melaui kata-kata. Cuman, sebagian besar ia bersifat tidak terungkapkan dan hanya
bisa dirasakan.
Saya tidak antisekolah atau antipelatihan, namun hal-hal
yang bersifat tidak terungkapkan terakhir, lebih banyak bisa dimengerti kalau
kita mengalaminya sendiri di lapangan. Diisukan negatif oleh orang lain, tidak
cocok, mau didongkel dari kursi, dipermalukan di depan umum, diomongkan negatif
di belakang kita, hanyalah serangkaian hal yang mesti dialami sendiri di
lapangan. Untuk kemudian, mendapatkan pengertian yang dalam tentang dinamika
interaksi antarmanusia di dunia kerja. Saya meragukan, kalau ada orang yang
memperoleh pengertian terakhir, tanpa pernah dihempas gelombang-gelombang godaan
tadi.
Setelah belajar dari tumpukan ribuan kebodohan dan kegagalan masa
lalu, saya menemukan sebuah kearifan berguna. Dalam setiap persoalan manusia,
saya belajar untuk mengurangi mencari siapa yang salah. Dan memusatkan perhatian
untuk memecahkan persoalan.
Amat mirip dengan cara terakhir, Ken Cloke
dan Joan Goldsmith dalam Resolving Conflict At Work, pernah menulis : ‘Define
the problem as a person and you are in trouble. Define the problem as difficult
behavior, you can do something about it’. Dengan kata lain, jika Anda
menempatkan masalahnya pada orang, dan kemudian mengambil tindakan (apa lagi
ilegal) maka masalah akan diganti dengan masalah yang lebih besar. Namun, bila
pemecahan dikonsentrasikan pada perilaku yang sulit, kemudian kita bisa
mencarikan jalan keluar yang lebih produktif.
Nah, bila saja banyak orang
mau belajar berhenti untuk menyalahkan orang lain, dan memusatkan perhatian pada
pemecahan persoalan, dunia kerja bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia adalah
tempat ‘meditasi’ yang kerap menghadirkan kedamaian. Persoalannya, untuk bisa
berhenti dari kebiasaan buruk tadi, disamping kadang kurang didukung lingkungan,
juga sering dihadapkan oleh dorongan-dorongan dari dalam diri yang juga tidak
mudah. Emosi, ego, harga diri, gengsi, ketidaksabaran hanyalah sebagian kecil
dari dorongan-dorongan tadi. Siapapun orangnya - dari penjahat sampai dengan
pendeta - memiliki dorongan terakhir dengan kadar yang berbeda-beda. Namun,
siapapun juga orangnya, ia membutuhkan deep meditation untuk mengelola
dorongan-dorongan tadi.
Apa yang saya sebut dengan deep meditation
sebenarnya amatlah mudah. Ketika lapar, makanlah secukupnya. Tatkala haus,
minumlah semampunya. Manakala mata mengantuk, tidurlah secukupnya. Dengan kata
lain, hidup kita dengan seluruh kesehariannya sebenarnya sebuah meditasi
panjang. Bila kita melakukan meditasi panjang ini dengan penuh ketekunan, kita
yang menjadi pengelola tubuh dan jiwa ini. Bukan sebaliknya, kita dikelola oleh
tubuh ini.
Lebih-lebih bagi mereka yang kebanyakan pekerjaannya adalah
merubah orang lain. Atau memiliki tugas mulia memasyarakatkan nilai-nilai luhur.
Sulit membayangkan, tugas-tugas terakhir bisa diselesaikan secara berhasil tanpa
melalui deep mediation. Ini juga sebabnya, kenapa bertemu orang-orang tertentu
kita mudah segan, hormat, respek, dan perasaan sejenis.
Di suatu waktu,
seorang rekan yang sudah puluhan tahun berpengalaman mengelola ribuan manusia
bertutur penuh keprihatinan. Mengurus manusia-manusia sulit - demikian menurut
rekan tadi - adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Tahun ini ada sekian
manusia sulit diselesaikan secara baik-baik, tahun berikutnya pasti - sekali
lagi pasti - ada manusia lain yang menjelma menjadi manusia sulit. Mirip dengan
pekerjaan rumah (PR) di sekolah, ia akan selalu datang secara bergantian dan
bergiliran.
Benang merah yang bisa ditarik dari kisah ini, memecahkan
masalah manusia dengan memindahkan, memecat dan sejenis memang boleh-boleh saja
dilakukan kadang-kadang. Akan tetapi, organisasi manapun yang dipimpin oleh
manusia dengan hobi menyalahkan orang lain, disamping tidak bisa memecahkan
persoalan jangka panjang, juga gagal membangun hubungan industrial yang kuat.
Nah, satu spirit dengan pendekatan deep meditation, pekerjaan interaksi
antarmanusia akan menjadi lebih mudah, bila kita mulai berhenti menyalahkan
orang lain.@
* Penulis adalah seorang pembicara publik, presiden
Dynamics Consulting dan direktur SDM sebuah perusahaan swasta.
sumber
: detik.com



Categories :
Anggiindrawan

0 komentar:
Posting Komentar