Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dariy r.a., bahwasanya Nabi saw. bersabda
yang artinya, "Din itu adalah nasihat." Kami bertanya, "Kepada siapa?" Beliau
menjawab, "Kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada pemimpin
kaum muslimin, dan kepada segenap kaum muslimin pada umumnya." (HR
Muslim)
Pengertian Nasihat
Kata nasihat berasal dari
bahasa Arab, yaitu dari kata kerja nashaha yang berarti murni atau bersih dari
segala kotoran, tetapi bisa juga berarti menjahit. Imam Al-Khaththabi r.a.
menjelaskan arti kata nasihat sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Rajab r.a.
dalam kitabnya, Jami'atul Ulum wal-Hikam, "Nasihat adalah kata untuk menerangkan
suatu pengertian, yaitu keinginan kebaikan untuk orang yang dinasihati."
Adapun sabda Rasulullah saw. bahwa din itu adalah nasihat, hal itu bukan
berarti bahwa nasihat itu merupakan keseluruhan dari din ini, tetapi maknanya
sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Daqiqil Ied dalam syarah Al-Arbain
an-Nawawiyah bahwa nasihat itu merupakan tiang serta tonggak dari din ini,
sebagaimana sabda beliau, "Haji itu Arafah."
Pengertian Nasihat
kepada Allah
Imam Al-Khaththabi rhm. berkata, "Hakikat kata kepada
Allah sesungguhnya kembali kepada hamba itu sendiri dalam nasihatnya kepada diri
sendiri, karena Allah tidak membutuhkan nasihat."
Pengertian nasihat
kepada Allah adalah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya, baik perintah yang wajib maupun yang sunah, begitu pula
meninggalkan larangan yang makruh, lebih-lebih yang haram.
Dan,
kewajiban yang paling utama adalah mentauhidkan Allah. Setiap muslim wajib
meyakini bahwa Allah adalah pencipta, pemilik, pemelihara, dan pengatur. Dialah
yang menghidupkan dan mematikan serta memberi rezeki kepada kita semua.
Apabila demikian keadaannya, wajib bagi setiap muslim beribadah kepada
Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Ia harus meyakini
tidak ada yang dapat memberikan manfaat atau madarat, kecuali Allah semata. Dia
harus mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai yang ditetapkan Allah
dalam kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya, tanpa mengubah arti yang
sesungguhnya, tanpa mengingkarinya, tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, dan
tanpa menanyakan kaifiyahnya (bagaimananya). Inilah yang dipahami oleh
Rasulullah saw. dan para sahabatnya serta orang-orang yang beriman yang
mengikuti jejak mereka. Barang siapa mengikuti jalan selain jalan mereka, maka
orang tersebut sesat dan diancam oleh Allah dengan api neraka Jahannam.
Allah berfirman, "Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu. Dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat
kembali." (An-Nisa: 115).
Seseorang yang beribadah kepada Allah semata,
ia pasti mencintai-Nya dan mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan azab dan
siksa-Nya.
Imam Ibnu Qayim al-Jauziyah dalam kitabnya, Raudhatul
Muhibbin wa-Nuzhatul Musytaqin, menerangkan tentang tanda-tanda orang yang cinta
kepada Allah, di antaranya tunduk dan patuh kepada Allah, selalu ingat
kepada-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya, dan membenci apa yang dibenci-Nya,
lebih mengutamakan rida Allah daripada rida makhluk-Nya, sabar dan rida atas
musibah yang menimpanya, memiliki kecemburuan terhadap Allah, yakni apabila dia
akan marah jika aturan-aturan Allah dilanggar, selalu berupaya menegakkan agama
Allah, berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah, berjihad di jalan Allah dengan
harta maupun jiwanya.
Pengertian Nasihat kepada Kitab Allah
Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi rhm. dalam kitabnya, Ta'dzimu
Qadris Shalah, mengatakan, "Sedangkan nasihat kepada kitab Allah adalah dengan
mengagungkan dan mencintainya. Karena, Alquran adalah kalamullah. Lalu, memiliki
perhatian dan keinginan yang kuat untuk memahaminya, mempelajari dengan didasari
rasa cinta kepadanya, serius dan penuh konsentrasi pada saat membacanya agar
dapat memahami sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Selanjutnya, ia dituntut
mengamalkan seluruh isi Alquran, berakhlak dengan akhlaknya dan beradab dengan
adabnya, setelah itu ia harus menyebarluaskannya kepada manusia apa yang telah
ia pahami."
Untuk memahami Alquran dengan pemahaman yang benar,
seseorang haruslah memahami metode yang benar pula. Imam Ibnu Katsir rhm.
menjelaskan dalam Muqaddimah Tafsir Alquran al-Adzim, "Sebenar-benar metode
tafsir adalah penafsiran Alquran dengan sunah, penafsiran Alquran dengan ucapan
para sahabat, dan penafsiran Alquran dengan ucapan tabi'in."
Adapun
penafsiran Alquran dengan ra'yu (pendapat) semata hukumnya adalah haram.
Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Islam Ibnu Taimiyah rhm.
(Al-Muqaddimah fi Ushulit Tafsir).
Pengertian Nasihat kepada
Rasulullah
Setiap muslim harus mengetahui sejarah hidup Rasulullah
saw. dan mengerahkan segala kemampuannya untuk taat, membela, dan menolongnya.
Seseorang yang bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, berarti dia harus
membenarkan segala apa yang diberitakan beliau meskipun tidak masuk akal,
menaati segala yang diperintahkannya dan menjauhi segala yang dilarangnya serta
beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan beliau.
Seorang muslim
harus yakin pula bahwa Nabi Muhammad saw. mendapat hak dari Allah untuk
mewajibkan atau mengharamkan sesuatu meskipun tidak terdapat dalam Alquran.
(Ar-Risalah, Imam Syafii).
Firman Allah, "(Yaitu) orang-orang yang
mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam
Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang
makruf dan melarang mereka mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan mereka
segala yang baik dan mengharamkan mereka segala yang buruk dan membuang dari
mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang
yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang
terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang
beruntung." (Al-A'raf: 157).
Orang-orang yang menang adalah yang membawa
kecintaan dan ketaatan pada jejak beliau, sedang orang-orang yang merugi adalah
yang terhalang dari mengikuti ajarannya. Barang siapa taat kepada beliau, maka
berarti taat kepada Allah; dan barang siapa menentangnya, berarti dia telah
menentang Allah, dan kelak akan mendapat balasan yang setimpal.
Pengertian Nasihat kepada Para Pemimpin Muslim
Syekh
Muhammad Hayat as-Sindy rhm. dalam kitabnya, Syarahul Arba'in an-Nawawiyah,
berkata, "Yang dimaksud para pemimpin muslim adalah para penguasa mereka.
Seorang muslim haruslah menerima, mendengar, dan taat kepada para penguasa
selama yang diperintahkan bukan maksiat. Sebab, tidak boleh taat kepada makhluk
dalam hal kemaksiatan terhadap Allah Maha Pencipta. Tidak boleh memerangi mereka
selama mereka belum kafir, berusaha memperbaiki keadaan mereka, meluruskan
kesalahan mereka dengan jalan amar makruf nahi mungkar, mendoakan mereka agar
mendapatkan kebaikan, karena kebaikan mereka berarti kebaikan bagi rakyat, dan
kerusakan mereka berarti kerusakan bagi rakyat."
Pengertian Nasihat
kepada Kaum Muslimin pada Umumnya
Setiap muslim adalah saudara bagi
muslim yang lainnya. Rasulullah saw. menggambarkan perumpamaan orang-orang yang
beriman dalam hal cinta, kasih sayang, dan kelembutan antar-sesama mereka
bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, seluruh tubuh
merasakan sakit pula sehingga tidak dapat tidur.
Seorang muslim haruslah
mencintai kaum muslimin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, turut serta
memikirkan dan memudahkan urusan mereka, turut bersedih atas kesedihan mereka,
tidak menipu mereka, tidak menzalimi mereka dalam bentuk apa pun, membela
orang-orang yang dizalimi tanpa pamrih semata-mata mencari rida Allah, tidak
menimbun barang sehingga harganya melambung tinggi, mengajak mereka ke dalam
kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran dan kesesatan, mengasihi yang
lebih muda dan menghormati yang lebih tua di antara mereka.
sumber:
Jeddah Dakwah Centre (JDC) Series on Islam
Al-Islam, Pusat Informasi dan
Komunikasi Islam Indonesia



Categories :
Anggiindrawan

0 komentar:
Posting Komentar